Tassawuf dan Tarekat


Ringkasan Buku Terbaru (Cahaya Tasawuf) Dr. H. Cecep Alba, MA

(Rektor IAILM Suryalaya)

A. Tasawuf

Definisi tasawuf satu dengan yang lainnya berbeda-beda tergantung dari sisi mana si pakar tadi     meninjaunya. Ada yang melihat dari sisi sejarah kemunculannya, ada yang melihat dari sisi fenomenan sosial di abad klasik dan pertengahan, juga ada yang melihatnya dari sisi substansi ajarannya dan ada juga yang melihat dari sisi tujuannya.

1. Asal-usul Tasawuf

Teori pertama menyatakan bahwa secara etimologis tasawuf diambil dari kata “Suffah” yaitu sebuah tempat di mesjid Rasulullah Saw. (Mesjid Nabawi) yang dihuni oleh sekelompok sahabat yang hidup zuhud yang konsentrasi beribadah kepada Allah sambl menimba ilmu dari Rasulullah. Teori kedua, menyatakan bahwa tasawuf diambil dari kata “sifat” dengan alasan bahwa para sufi suka membahas sifat-sifat Allah sekaligus mengaplikasikan sifat-sifat Allah tersebut dalam perilaku mereka sehari-hari. Teori ketiga berpendapat bahwa kata “tasawuf” daiambil dari akar kata “sufah” artinya selembar bulu, sebab para sufi dihadapan Tuhannya merasa begaikan selembar bulu yang terpisah dari kesatuannya yang tidak mempunyai nilai apa-apa. Teori keempat menyatakan bahwa “tasawuf” diambil dari kata “shofia” yang artinya al-hikmah (bijaksana) sebab para sufi selalu mencari hikmah ilahiyah dalam kehidupannya. Teori kelima, sebagaimana dikemukakan oleh al-Busti seorang fakar tasawuf, menyatakan bahwa taswuf berasal dari kata “as-safa” yang artinya suci, bersih dan murni, sebab para sufi membersihkan jiwanya hingga berada dalam kondisi suci dan bersih. Ada juga teori yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari akar kata “suf” yang artinya bulu domba (wool), dengan argumentasi wool kasar yang terbuat dari bulu binatang sebagai tanda kesederhanaan hidup mereka.

Diantara berbagai pendapat tenang asal usul “taswuf” menrut Ahmad as-Sirbasi, pendapat al-Bustilah yang paling kuat dan rajih, sebab kenyataannya tasawuf itu adalah upaya pensucian hati supaya dekat dengan Allah.

Dilihat dari tujuannya, seperti telah disinggung di atas, tasawuf adalaha proses pendekatan diri kepada Allah dengan cara mensucikan hati (tashfiat al-Qalbi).

2. Pengertian Tasawuf secara Terminologis

Menurut Muhammad bin Ali al-Qasab, guru Imam Junaidi al-Bagdadi, tasawuf adalah akhlak mulia yang nampak di zaman yang mulia dari seorang manusia mulia bersama kaum yang mulia.

Sedang menurut al-Junaidi al-bagdadi (W. 297 H) tasawuf adalah :

“Engkau ada bersama Allah tanpa ‘alaqah (tanpa perantara)”.

Usman al-Makki berpendapat bahwa tasawuf adalah keadaan dimana seorang hamba setiap waktu melakukan perbuatan (amal) yang lebih baik dari waktu sebelumnya.

Sirri as-Saqati (W. 251 H) berkata :

“Tasawuf adalah suatu nama bagi tiga makna : yakni (1) nur ma’rifat nya tidak memadamkan cahaya kewaraannya, (2) tidak berbicara tentang ilmu batin yang bertentangan dengan makna zahir al-Kitab atau sunnah, dan (3) tidak terbawa oleh karomahnya untuk melanggar larangan Allah”.

Syekh Abdul Qodir al-Jilani berpendapat bahwa taswuf adalah mensucika hati dan melepaskan nafsu dari pangkalnya dengan kholwah, riyadoh dan terus-menerus berdzikir dengan dilandasi iman yang benar, mahabbah, taubat dan ikhlas.

Sedangkan ilmu tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui keadaan jiwa manusia, terpuji atau tercela, bagaimana cara-cara mensucikan jiwa dari berbagai sifat yang tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji dan bagaimana cara mencapai jalan menuju Allah.

3. Obyek Ilmu Tasawuf

Obyek ilmu taswuf adalah perbuatan hati dan panca indera ditinjau dari segi cara pensuciannya.

4. Buah Ilmu Tasawuf

Buah taswuf adalah terdidiknya hati mengetahui (ma’rifah) terhadap ilmu gaib secara ruhani, selamat di dunia dan bahagia di akhirat, dengan mandapat keridoan Allah.

5. Keutamaan Ilmu Tasawuf

Ilmu tasawuf adalah ilmu yang paling mulia karena berkaitan dengan ma’rifah kepada Allah Ta’ala dan mahabbah kepada-Nya.

6. Hubungan ilmu taswuf dengan ilmu yang lainnya

Nisbah ilmu taswuf terhadap ilmu yang lain baagikan nisbah ruh bagi jasad. Ilmu tasawuf adalah ruh, sementara ilmu yang lain adalah jasad. Jasad tidaklah dapat hidup tanpa ruh.

7. Pencipta Ilmu Tasawuf

Pencipta ilmu tasawuf adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah menciptakan ilmu ini kepada Rasulullah dan para Nabi yang sebelumnya.

8. Nama Ilmu Taswuf

Ilmu tasawuf mempunyai beberapa nama, antara lain sebagai berikut:

a. Ilmu Batin

b. Ilmu al-Qalbi

c. Ilmu Laduni

d. Ilmu Mukasyafah

e. Almu Asrar

f. Ilmu Maknun

g. Ilmu Hakikat

9. Pilar Ilmu Tasawuf

Pilar ilmu tasawuf ada lima perkara

a. Taqwallah (bertakwa kepada Allah) baik sewaktu sirr maupun ‘alabiyah (terbuka).

b. Mengikuti Sunnah baik qauli maupun fi’li serta mengaktualisasikannya dalam penjagaan diri dan akhlak yang baik.

c. Berpaling dari makhluk yang diwujudkan dalam sikap sabar dan tawakkal.

d. Rida terhadap ketentuan Allah yang diwujudkan dengan sikap qona’ah dan menerima (tafwid).

e. Kembali kepada Allah baik sikala senang maupun di waktu susah.

10. Sumber Ilmu Tasawuf

Ilmu tasawuf diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Juga dari atsar assabitah (jejak yang sudah tetap) dari umat-umat pilihan di masa silam.

11. Hukum Mempelajari Ilmu Tasawuf

Hukum mempelajarai ilmu tasawuf adalah wajib ain atrinya kewajiban yang mengikat kepada setiap individu muslim.

Oleh karena itu sebagian ulama ahli ma’rifah berkata :

Barang siapa yang tidak memiliki ilmu ini sedikitpun (ilmu batin), aku hawatir ia berakhir dengan su’ul khatimah. Paling tidak seorang mukmin harus membenarkan akan ilmu ini dan menyerahkan kepada ahlinya.

12. Masalah-masalah yang dibahas dalam ilmu Tasawuf

Masalah inti yang dibahas dalam ilmu tasawuf adalah sifat-sifat jiwa manusia, cara-cara pensucian jiwa, dan penjelasan istilah-istilah yang khas dalam disiplin ilmu ini misalnya; maqamat, taubat, zuhud, wara’, al-mahabbah, fana baqa dan yang lainnya.

B. Rukun Tasawuf

Al-Kalabazi dengan mengutip pendapat Abu al-Hasan Muhammad bin Ahmad al-Farisi menerangkan bahwa rukun tasawuf ada sepuluh macam, antara lain :

1. Tajrid at-Tauhid (memurnikan tauhid)

2. Memahami informasi. Maksudnya mendengar tingkah laku bukan hanya mendengar ilmu saja.

3. Baik dalam pergaulan.

4. Mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan diri sendiri.

5. Meninggalkan banyak pilihan.

6. Ada kesinambungan antara pemenuhan kepentingan lahir dan batin.

7. Membuka jiwa terhadap intuisi (ilham).

8. Banyak melakukan bepergian untuk menyaksikan keagungan alam ciptaan Tuhan sekaligus mengambil pelajaran.

9. Meninggalkan iktisab untuk menumbuhkan tawakkal.

10. Meninggalkan iddikhar (banyak simpanan) dalam keadaan tertentu kecuali dalam rangka mencari ilmu.

C. Perkembangan Tasawuf

Secara keilmuan, tasawuf adalah disiplin ilmu yang baru dalam syari’at Islam, demikian menurut Ibnu Khaldun. Adapaun asal-usul tasawuf menurutnya adalah konsentrasi ibadah kepada Allah, meninggalkan kemewahan dan keindahan dunia dan menjauhkan diri dari akhluk. Ketika kehidupan materialistik mulai mencuat dalam peri kehidupan masyarakat muslim pada abad kedua dan ketiga hijriyyah sebagai akibat dari kemajuan ekonomi di dunia Islam, orang-orang yang konsentrasi beribadah dan menjauhkan diri dari hiruk pikuknya kehidupan dunia disebutlah kaum sufi.

Berbeda dengan Ibnu Khaldun, Muhammad Iqbal dalam bukunya “Tajdid al-Fikr ad-Dini al-Islam” berpendapat bahwa tasawuf telah ada semenjak Nabi. Riyadoh Diniyyah telah lama menyertai kehidupan manusia sejak awal-awal Islam bahkan kehidupan ini semakin mengental di dalam sejarah kemanusiaan.

Menurut sebagian fakar, Imam Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang memunculkan istilah taswuf. Menurut yang lain Salman al-Farisi. Menurut pendapat yang lain Hudzaefah bin al-Yaman sebab Hasan Basri (tokoh sufi di abad kedua Hijriyyah) berguru kepada Hudzefah.

Akar-akar tasawuf dalam Islam merupakan penjabaran dari ihsan. Ihsan sendiri merupakan bagian dari trilogi ajaran Islam. Islam adalah satu kesatuan dari iman, islam dan ihsan. Islam adalah penyerahan diri kepada Allah secara zahir, iman adalah I’tikad batin terhadap hal-hal gaib yang ada dalam rukun iman, sedangkan ihsan adalah komitmen terhadap hakikat zahir dan batin.

Islam, iman dan ihsan adalah landasan untuk melakukan suluk dan taqqarub kepada Allah. ‘Iz bin Abdissalam berpendapat bahwa sistematika keberagamaan bagi kaum muslimin, yang pertama adalah Islam. Islam merupakan tingkat pertama beragama bagi kaum awam. Iman adalah tingkatan pertama bagi hati orang khusus kaum mukminin, sedangkan ihsan adalah tingkatan pertama bagi ruh kaum muqarribin.

D. Tahapan-tahapan Supaya bisa Dekat Dengan Allah

Dalam menempuh jalan ruhani menuju Tuhan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah), ada stasion-stasion (al-Maqamat)“hal” adalah kondisi yang dialami oleh seorang sufi dalam dirinya atau batinnya sebagai hasil dari usahanya dalam maqamat tadi. Dengan demikian perbedaan maqam dan ahwal ialam maqam merupakan usaha seorang sufi untuk berada dalam tingkatan tertentu sedangkan ahwal adalah suatu pemberian (karunia) Allah yang diberikan kepada seorang sebagai hasil usahanya dalam maqam tadi. yang mesti ditempuh oleh seorang salik. Maqam adalah kedudukan atau tahapan dimana seorang sufi berada. Kedudukan ini hanya akan di dapat oleh seorang sufi atas usahanya sendiri dengan penuh kesungguhan dan istiqamah. Sedangkan ahwal yang bentuk mufranya

“Ahwal adalah pemberian sementara maqamat adalah usaha”.

Dengan demikian ahwal bertingkat-tingkat. Pada umumnyapara sufi menulis sepuluh tingkatan.

1. Taubah

Taubah adalah maqam pertama yang mesti dilalui oleh setiap salik.

Taubah ada tiga tingkatan :

a) Taubah orang sadar

Awalnya kebiasaan yang terjadi dalam linngkungan beragama tetapi akhirnya menjadi tinggi dalam perasaan tambah-tambah menjadi peringatan.

b) Taubat Salik

Taubah orang salik bukan dari dosa dan kesalahan dan bukan dari penyesalan dan istigfar tetapi terjadi karena perpindahan kondisi jiwa yang naik menjadi sempurna sehingga dapat menghadirkan Allah dalam setiap gerak nafasnya.

Dalam sebuah syair yang indah Abdullah al-Mubarok menyatakan :

Aku melihat dosa mematikan hati

Lalu diikuti dengan kehinaan di setiap-setiap zamannya

Meninggalkan dosa adalah cara menghidupkan hati

Maka pilihlah bagi dirimu untuk menyalahi dosa-dosa.

c) Taubat ‘Arif

Taubat seorang ‘arif (orang yang ma’rifah) bukan dari dosa atau dari menyalahi jiwa tetapi taubah dari kelupaan terhadap dirinya sendiri bahwa dirinya itu dalam gemgaman Tuhannya.

2. Zuhud

Awal mula zuhud adalah sikap wara’ dalam beragama yakni menjauhi hal-hal yang diharamkan syara’. Memang kewara’an dapat menimbulkan keinginan untuk berlaku zuhud secara ruhani secara mendalam. Hanya makna zuhud secara sufistik lebih jauh dari itu. Misalnya halal menurut syari’at adalah apa-apa yang tidak menyalahi aturan Allah, sementara halal secara sufistik adalah apa-apa yang tidak menyebabkan lupa kepada Allah.

3. Wara (al-Wara’)

Secraa lugawi wara’ artinya hati-hati. Secara istillahi wara’ adalah sikap menahan diri agar hatimu tidak menyimpang sekejap pun dari mengingat Allah.

Wara’ ada empat tingkatan

a. Wara’ orang awam

Ialah wara’ orang kebanyakan yaitu menahan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang Allah.

b. Wara’ orang saleh

Menahan diri dari menyentuh atau memakan sesuatu yang mungkin akan jatuh kepada haram.

c. Wara’ muttaqin

Menahan diri dari sesuatu yang tidak diharamkan dan tidak syubhat karena takut jatuh kepada haram.

Nabi bersabda, yang artinya :

“Seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sehingga dia meninggalkan apa yang tidak berdosa karena takut akan apa yang dapat menimbulkan dosa” (Ibnu Majah).

d. Wara’ orang benar

Menahan diri dari apa yang tidak berdosa sama sekali dan tidak khawatir jatuh ke dalam dosa, tapi dia menahan diri melakukannya kaena takut tidak ada niat untuk beribadat kepada Allah.

4. Faqr (al-Faqr)

Faqr berarti kekurangan harta dalam menjalankan kehidupan di dunia. Sikap faqr harus dimiliki oleh seorang salik sewaktu menjalankan suluknya.

5. Sabar (as-Sabr)

Sabar berarti tabah dalam menghadapi segala kesulitan tanpa ada rasa kesal dan menyerah dalam diri. Sabar juga dapat berarti tetap merasa cukup meskipun kenyataannya tidak memiliki apa-apa.

6. Syukur (as-Syukr)

Syukur yang berarti berterima kasih. Allahlah yang telah memberikan nikmat dan berokah kepada umat manusia. Allah berfirman : Jika kamu bersyukur, maka kami akan menambahkan nikmat kepadamu (al-Baqarah: 7).

7. Tawakal (at-Tawakkal)

Tawakkal arti dasarnya berserah diri kepada Allah. Secara sufistik tawakkal adalah penyerahan diri hanya kepada ketentuan Allah.

8. Rida (ar-Rida)

Rida artinya meninggalkan ikhtiar. Menurut al-Muhaisibi rida adalah tentramnya hati dibawah naungan hukum.

Menurut an-Najjar, ahli rida terbagi empat tipe. Pertama, golongan orang yang rida atas segala pemberian Al-Haq dan inilah makrifat. Kedua, golongan orang rida atas segala nikmat, itulah dunia. Ketiga, golongan yang rida atas musibah dan itlah cobaan yang beragam. Keempat, golongan yang rida atas keterpilihan, itulah mahabbah.

9. Al-Ma’rifah

Ma’rifah artinya mengenal atau melihat (melihat tuhan dengan mata hati).

Dzunnun al-Misri membagi ma’rifah menjadi tiga bagian : 1) Ma’rifah mukmin, 2) Ma’rifah ahli kalam, 3) Ma’rifah Auliya muqarrabin. Sufi membagi manusia pada tiga klasifikasi. Pertama, tingkatan kaum ‘arif yang mendapatkan kebahagiaan sebab hikmah (wisdom). Kedua, tingkatan orang-orang mukmin yang mendapatkan kebahagiaan karena memiliki keimanan. Ketiga, tingkaatn orang-orang bodoh dan mereka ini orang-orang yang binasa.

E. Tasawuf dan Tarekat

Mazhab dalam tasawuf disebut tarekat. Harun Nasution memandang tarekat dari sisi institusi. Ia beranggapan bahwa tarekat adalah organisasi para pengamal ajaran Syaikh pendiri tarekat termaksud.

K.H.A. Sahibulwafa Tajul’arifin (Abah Anom) menjelaskan bahwa tasawuf adalah proses pendekatan diri kepada Tuhan sedangkan tarekat adalah metodenya. Dengan demikian TQN adalah salah satu metode tasawuf untuk mendekatkan diri kepada Allah guna dapat keridoan-Nya.

Sebuah tarekat dianggap mu’tabarah apabila terpenuhi kriteria sebagai berikut.

1. Substansi ajarannya tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dalam arti bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

2. Tidak meninggalkan syari’ah.

3. Silsilahnya sampai dan bersambung (ittisal) kepada Rasulullah Saw.

4. Ada mursyid yang membimbing para muridnya.

5. Ada murid yang mengamalkan ajaran gurunya.

6. Kebenaran ajarannya bersifat universal.

Tarekat yang tidak memenuhi kriteria seperti tertulis di atas dianggap gair mu’tabarah yakni tidak dibenarkan mengamalkannya apalagi meyebarkannya.

Berdasarkan kelima kriteria di atas jelaslah bahwa TQN bukanlah ajaran yang baru apalagi dianggap ajaran yang tidak berasal dari Rasul, karena ia adalah ajaran yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah sahihah dan secara mutawatir diamalkan oleh setiap generasi dibawah bimbingan Syaikh Mursyid pada setiap zamannya.

F. Sumber Ajaran Tasawuf

Kalau kita kaji al-Qur’an secara tematik, kita kana menemukan peta ayat secara zahir yakni ada empat tentang teologi, fikih, tasawuf, falsafah dan seterusnya. Dari pendektana semacam ini ulama melahirkan ilmu tauhid, ilmu fikih, tasawuf, filsafat dan lain-lain.

Sebagian sufi misal Ibnu ‘Arabi, al-Qusyaeri, Ibnu ‘Atolilah as-Sakandari dan sufi-sufi kontemporer lainnya berpendapat bahwa semua ayat adalah tauhid, semua ayat adalah fikih begitu juga semua ayat adalah taswuf. Paradigma yang berbeda dengan statemen di atas ini muncul karena ada hadis nabi yang menyatakan bahwa setiap ayat ada mengandung makna zahir dan makna batin.

Makna batin hanya dapat dipahami oleh ulama yang secara istiqamah mensucikan hatinya dengan riyadah. Ulama yan g dawam dalam riyadah adalah para sufi. Para sufilah orangnya yang dapat menangkap makna batin ayat sehingga melahirkan ilmu haqiqah.

Dari pendekatan semacam ini pula, pada gilirannya melahirkan apa yang disebut tafsir isyari (tafsir sufi). Dari tafsir isyarilah lahirnya ilmu hakikat, taswuf dan tarekat, termasuk Tareka Qadiriyyah wa an-Naqsabandiyah (TQN).

G. Buah dari Pengamalan Tasawuf

Buah pengamalan ilmu taswuf adalah akhlak al-Karimah akhlak al-Karimah adalah kepribadian seimbang seorang manusia dalam kedudukannya sebagai hamba Allah dan khalifah Allah.

Dalam konsep universal dapat disebutkan bahwa akhlak al-Karimah adalah kepribadian yang sesuai dengan petunjuk (hidayah) Allah dan Rasulnya.

H. Tarekat dalam Sistem Ajaran Islam

Tarekat merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Islam tanpa tarekat bukanlah Islam kaffah sebagai yang diajarkan Rasulullah Saw. Islam kaffah adalah Islam yang terpadu di dalamnya aspek akidah, syari’ah dan haqiqah.tarekat qadiriyyah wa an-Naqsabandiyah adalah salah satu alian dalam tasawuf yang substansi ajarnnya merupakan gabungan dari dua tarekat yaitu Qadiriyyah dan naqsabandiyah. Secara keilmuan dari aqidah lahir ilmu aqa’id, ilmu tauhid, teologi Islam dan ilmu kalam, dari syariah lahir ilmu Fikih dengan segala cabangnya dan dari aspek haqiqah lahir ilmu tasawuf dan tarekat.

Arti dasar tarekat adalah jalan. Dan yang dimaksud adalah jalan yang mesti dilalui oleh seorang salik utuk menuju pintu-pintu tuhan. Imam Malik berkata sebagai dikutip oleh Imam al-Gazali :

“Barang siapa bertasawuf tanpa fikih maka dia zindik dan barang siapa berfikih tanpa tasawuf maka ia masih fasik dan barang siapa yang berislam dengan memadukan antara fikih dan tasawuf benarlah dia dalam berislam”.

Secara eksplisit kedua tarekat ini dipadukan oleh seorang Maha Guru tasawuf yaitu Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Qadiriyah adalah nama sebuah tarekat yang dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Sultan al-Auliya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Sementara Naqsabandiyah adalah tarekat yang dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Syaikh Bahauddin an-Naqsabandi.

TASAWUF AKHLAKI, FALSAFI, DAN IRFANI

A. Tasawuf Akhlaki (Tasawuf Sunni)

Tasawuf Akhlaki adalah tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak’ mencari hakikat kebenaran yang mewujudkan menuasia yang dapat ma’rifah kepada Allah, dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf Akhlaki, biasa disebut juga dengan istilah tasawuf sunni. Tasawuf Akhlaki ini dikembangkan oleh ulama salaf as-salih.

Dalam diri manusia ada potensi untuk menjadibaik dan potensi untuk menjadi buruk. Potensi untuk menjadi baik adalah al-‘Aql dan al-Qalb. Sementara potensi untuk menjadi buruk adalah an-Nafs. (nafsu) yang dibantu oleh syaithan.

Sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an, surat as-Syams : 7-8 sebagai berikut :

<§øÿtRur $tBur $yg1§qy™ ÇÐÈ $ygyJolù;r’sù $ydu‘qègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ

Artinya : “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.

Para sufi yang mengembangkan taswuf akhlaki antara lain : Hasan al-Basri (21 H – 110 H), al-Muhasibi (165 H – 243 H), al-Qusyairi (376 H – 465 H), Syaikh al-Islam Sultan al-Aulia Abdul Qadir al-Jilani (470 – 561 H), Hujjatul Islam Abu Hamid al-Gajali (450 H – 505 H), Ibnu Atoilah as-Sakandari dan lain-lain.

B. Tasawuf Falsafi

Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang didasarkan kepada keterpaduan teori-teori tasawuf dan falsafah. Tasawuf falsafi ini tentu saja dikembangkan oleh para sufi yang filosof.

Ibnu Khaldun berendapat bahwa objek utama yang menjadi perhatian tasawuf falsafi ada empat perkara. Keempat perkara itu adalah sebagai berikut:

1. Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta intropeksi diri yang timbul dari dirinya.

2. Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya sifat-sifat rabbani, ‘arasy, kursi, malaikat, wahyu kenabian, ruh, hakikat realitas segala yang wujud, yang gaib maupun yang nampak, dan susunan yang kosmos, terutama tentang penciptanya serta penciptaannya.

3. Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang brepengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.

4. Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syatahiyyat) yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya, menyetujui atau menginterpretasikannya.

Tokoh-tokoh penting yang termasuk kelompok sufi falsafi antara lain adalah al-Hallaj (244 – 309 H/ 858 – 922 M) Ibnu’ Arabi (560 H – 638 H) al-Jili (767 H – 805 H), Ibnu Sab’in (lahir tahun 614 H) as-Sukhrawardi dan yang lainnya.

C. Tasawuf ‘Irfani

Tasawuf ‘Irfani adalah tasawuf yang berusaha menyikap hakikat kebenaran atau ma’rifah diperoleh dengan tidak melalui logika atau pembelajaran atau pemikiran tetapi melalui pemebirian Tuhan (mauhibah). Ilmu itu diperoleh karena si sufi berupaya melakukan tasfiyat al-Qalb. Dengan hati yang suci seseorang dapat berdialog secara batini dengan Tuhan sehingga pengetahuan atau ma’rifah dimasukkan Allah ke dalam hatinya, hakikat kebenaran tersingkap lewat ilham (intuisi).

Tokoh-tokoh yang mengembangkan tasawuf ‘irfani antara lain : Rabi’ah al-Adawiyah (96 – 185 H), Dzunnun al-Misri (180 H – 246 H), Junaidi al-Bagdadi (W. 297 H), Abu Yazid al-Bustami (200 H – 261 H), Jalaluddin Rumi, Ibnu ‘Arabi, Abu Bakar as-Syibli, Syaikh Abu Hasan al-Khurqani, ‘Ain al-Qudhat al-Hamdani, Syaikh Najmuddin al-Kubra dan lain-lainnya.

TQN PONDOK PESANTREN SURYALAYA

A. Tujuan TQN

Tujuan TQN sama dengan tujuan Islam itu sendiri, yaitu menuntun manusia agar mendapat ridha Allah, sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat.

“Tuhanku, Engkaulah yang aku maksud dan keridoan-Mu yang aku cari. Berilah aku kemampuan untuk bisa mencintai-Mu dan ma’rifah kepada-Mu”.

Dalam do’a tersebut terkandung empat macam tujuan TQN itu sendiri yaitu :

1. Taqarrub Ilallah SWT.

Ialah mendektakan diri kepada Allah dengan jalan dzikrullah.

2. Menuju jalan Mardhatillah

Ialah menuju jalan yang diridai Allah Swt. Baik dalam ‘ubudiyyah maupun di luar ubudiyyah.

3. Kema’rifatan (al-ma’rifah); melihat tuhan dengan mata hati.

4. Kemahabbahan (kecintaan) terhadap “Dzat Laisa kamislihi Syaiun” yang mana dalam mahabbah itu mengandung keteguhan jiwa dan kejujuran hati.

B. Dasar-dasar TQN

Adapun dasar-dasar TQN agar dapat mencapai tujuan sebagaimana tertulis di atas, dijelaskan oleh Tuan Syaikh sendiri yaitu sebagai berikut :

1. Tinggi cita-cita. Barangsiapa yang tinggi cita-citanya maka menjadi tinggilah martabatnya.

2. Memelihara kehormatan. Barangsiapa memelihara kehormatan Allah, Allah akan memelihara kehormatannya.

3. Memperbaiki hidmat. Barangsiapa memperbaiki khidmat, ia wajib memperoleh rahmat.

4. Melaksanakan cita-cita. Barangsiapa berusaha mencapai cita-citanya, aia kan sealu memperoleh hidayah-Nya.

5. Membesarkan nikmat. Barangsiapa membesarkan nikmat Allah berarti ia bersyukur kepada Allah. Barangsiapa bersyukur kepada-Nya maka ia akan mendapatkan tambahan nikmat sebagai yang dijanjikan Allah.

C. Amaliyah dalam TQN

Amaliyah yang bersifat spiritual ini harus diamalkan oleh siapa saja yang telah menyatakan diri melallui “talqin” sebagai murid dan ikhwan bagi Guru Mursyid dalam komunitas tarekat termaksud.

1. Zikir

Zikir, secara lugawi artinya ingat, mengingat atau eling dalam bahasa sunda. Yang dimaksud dalam TQN adalah zikir bimakna khas. Zikir bimakna khas adalah “hudurul Qalbi ma’allah” (hadirnya hati kita bersama Allah). Zikir dalam arti khusus ini terbagi dua 1) zikir jahr dan 2) zikir khafi.

Baik zikir jahr maupun zikir khafi mempunyai landasan yang kuat dari al-Qur’an dan tradisi Rasulullah saw.

Dalil-dalin zikir dalam al-Qur’an

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring” (QS. 3 : 191)

“Maka berzikirlah kepada-Ku, pasti aku akan mengingat-mu,…” (QS. 2 : 152).

Dalil-dalil dzikir dalam Hadis Rasulullah saw.

“Perbaharuilah iman kamu sekalian !. para sahabat bertanya : Bagaimana cara kami memperkuat dan memperbaharui iman itu ya Rasulullah ? Rasul bersabda ialah dengan memperbanyak ucapan laailaaha illalaah”.

Syarat-syarat berdzikir ada tiga macam

1) Hendaklah orang yang berdzikir mempunyai wudu yang sempurna.

2) Hendaklah orang yang berzikir melakukannya dengan gerakan yang kuat.

3) Berdzikir dengan suara keras sehingga dihasilkan cahaya zikr di dalam abtin orang-orang yang berzikir dan menjadi hiduplah hati-hati mereka.

2. Khataman

Kata khataman berasala dri kata “khatama yakhtumu khataman” artinya selesai/ menyelesaikan. Maksud khataman dalam TQN adalah menyelesaikan atau menamatkan pembacaan aurad (wirid-wirid) yang menjadi ajaran TQN pada waktu-waktu tertentu.

3. Manakib (Manaqib)

Kata manakib merupakan kata jama dari manqabah mendapat akhiran an. Manqabah sendiri artinya babakan sejarah hidup seseorang.

Jama dari manqobah adalah manaqib. Dalam tradisi bahasa sunda kata manaqib ditambah dengan an sehingga bacaannya menjadi manaqiban yang mengandung arti proses pembacaan penggalan hidup seseorang secara spiritual. Manaqib dalam TQN adalah manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sebagai pendiri tariqat Qadiriyyah.

Manaqiban dalam TQN merupakan amalan syahriyyah artinya amalan yang harus dilakukan minimal satu bulan satu kali. Biasanya materi manaqiban terbagi pada dua bagian penting. Pertama, materi (kontens) tentang hidmah ‘amaliyah. Hidmah amaliyah ini adalah inti manaqiban itu sendiri. Substansi ajarannya ialah meliputi :

1. Pembacaan ayat suci al-Qur’an

2. Pembacaan Tanbih

3. Pembacaan Tawassul

4. Pembacaan manqabah Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani

5. Do’a

6. Tutup

Kedua hidmah ‘Ilmiyyah. Maksud hidmah ilmiyyah adalah pembahasan tasawuf secara keilmuan dan pembahasan aspek-aspek ajaran Islam keseluruhan.

Tujuan Manaqiban

1) Mencintai dan menghormati zurriyyah (keturunan) Rasulullah saw.

2) Mencintai para ulama, salihin dan para wali.

3) Mencari berkah dan syafa’at dari Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

4) Bertawassul dengan tuan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani karena Allah semata.

5) Melaksanakan nazar karena Allah semata, bukan karena maksiat.

4. Riyadoh

Riyadoh secara etimologis artinya latihan. Dalam term tasawuf yang dimaksud riyadoh adalah latihan rohani dengan cara tertentu yang lazim dilakukan dalam dunia tasawuf. Dalam tradisi TQN, riyadoh yang paling utama adalah zdikrullah.

5. Ziarah

Ziarah menurut bahasa berasal dari akar kata zaara – yazuuru, ziyaaratan artinya berkunjung atau mengunjungi. Menurut istilah ziarah adalah mengunjungi tempat-tempat suci, atau berkunjung ke kepada orang-orang salih, para nabi, para wali, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dengan niat karena Allah.

Tujuan Ziarah, antara lain :

1) Mengingatkan kita akan kematian.

2) Mengambil pelajaran (‘ibrah) dari kehidupan manusia-manusia salih (salihin).

3) Mendo’akan kepada arwah mukminin yang sudah meninggal mendahului kita.

4) Attabarruk.

6. Khalwah

Khalwat artinya mengasingkan diri dari keramaian dunia ke suatu tempat dengan tujuan agar konsentrasi beribadah kepada Allah semata. Khalwat bagi salik mubtadi (pengamal tarekat baru) harus dibawah bimbingan Guru Mursyid. Lama masa khalwat tergantung pada bimbingan guru bisa jadi sepuluh hari, dua puluh hari hingga empat puluhhari. Paling sedikit tiga hari.

Dalam kitab Tanwir al-Qulub, Syaikh Amin Kurdi menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang salik yang akan berkhalwat yaitu:

1) Niat dengan ikhlas

2) Meminta izin kepada mursyidnya sekaligus memohon do’anya.

3) Didahului dengan ‘uzlah, tidak tidur malam, berpuasa dan terus berdzikir.

4) Masuk tempat khlawat mendahulukan kaki kanan dengan membaca ta’awwuz, basmalah dan membaca surat an-Nas tiga kali.

5) Dawam al-Wudlu.

6) Jangan bertujuan ingin mendapat karamat.

7) Tidak menyandar badan ke dinding.

8) Rabithah.

9) Berpuasa.

10) Diam dan terus Zikrullah.

11) Waspada terhadap godaan yang empat,syaitan, materi, nafsu dan syahwat. Dan laporkan kepada guru apa yang terjadi sewaktu khalwat.

12) Menjauhi sumber suara.

13) Salat fardu tetap berjama’ah demikian juga jum’at tidak boleh ditinggalkan.

14) Jika harus keluar maka kepala ditutup dan melihat ke tanah.

15) Jangan tidur, kecuali kalau sangat ngantuk boleh tetapi punya wudu. Tidak tidur untuk rehat badan, bahkan kalau mampu jangan sampai merebahkan badannya ke lantai tetapi tidurlah sambil duduk.

16) Tidak lapar tidak kenyang.

17) Jangan membuka pintu kepada orang yang bermaksud meminta berkah kepadanya.

18) Semua keni’matan yang dialaminya harus merasa hanyalah dari gurunya.

19) Menapikan getaran dan lintasan dalam hati, apakah getaran baik atau jelek, karena boleh jadi mengganggu kekhusuan hati.

20) Terus berdzikir dengan cara yang telah diperintahkan guru sampai guru memerintah berhenti dan keluar dari khalwat.

7. Tanbih

Secara vertikal TQN membimbing manusia menuju kepada Tuhan dan secara horizontal memberikan rambu-rambu dan prinsip-prinsip bagaimana seharusnya kita hiddup secara berjamaah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tanbih juga mengandung ajarn moral, menyangkut pelbagai kehidupan pribadi, keluarga masyarakat dan negara secara luas.

D. Hasil yang Dicapai

HM. Subandi, pakar psikologi dari Universitas Gajah Mada, telah melakukan penelitian tentang dampak kejiwaan yang timbul dari pengamalan TQN Pondok Pesantren Suryalaya.

1. Kemampuan memecahkan masalah, dari mulai masalah pribadi, keluarga, karir, polotik, ekonomi dan lain-lain.

2. Ketahanan emosional yang tinggi, meskipun mengalami berbagai situasi yang menyedihkan atau mengecewakan ia tidak mengalami gangguan mental karenanya.

3. Ketenangan batin, tidak merasa cemas atau waswas dalam menghadapi situasi yang tidak menentu.

4. Pengendalian diri yang baik (kontrol diri), tidak terbawa arus kemanapun pergi.

5. Pemahaman terhadap dirinya sendiri secara baik.

6. Menemukan jati dirinya atau dalam istilah psikologi “individuasi” karena mampu menemukan dirinya maka ia pun mampu menemuka Tuhannya.

7. Memiliki kesadaran lain atau dalam istilah psikologi disebut “altered states of consiousness” yaitu kesadaran “supernormal” (bukan para normal), yang pada umumnyadimiliki oleh orang yang berwawasan spiritual atau tungkat kerohanian tinggi.

MURSYID DAN MURID

A. Mursyid

Guru atau mursyid dalam sistem tasawuf adalah asyrafunnasi fi at-tariqoh artinya orang yang palin tinggi martabatnya dalam suatu tarekat. Mursyid mengajarkan bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memberikan contoh bagaimana ibadah yang benar secara syari’at dan hakikat. Betapa penting keberadaan guru dalam suatu tarekat, dijelaskan tidaklah benar seseorang mengamalkan suatu tarekat tanpa guru.

Mursyidlah yang mendapat izin dari Rasulullah untuk melakukan talqin az-Zikir kepada sipa saja ang mau mengamalkan zikir.

Kriteria Mursyid

a. Seorang mursyid haruslah seorang yang alim.

b. Seorang mursyid haruslah’arif.

c. Seorang mursyid harus sabar dan mempunyai rasa belas kasihan yang tinggi kepada murid-muridnya.

d. Seorang mursyid harus pandai menyimpan rahasia murid-muridnya.

e. Seorang mursyid tidak boleh menyalahgunakan kedudukan sebagai seorang guru spiritual atau orang yang paling tinggi martabatnya dalam tarekat.

f. Seorang mursyid haruslah bijaksana.

g. Seorang mursyid harus disiplin.

h. Menjaga lisan dan nafsu keeduniaan.

i. Seorang mursyid harus mempunyai hati yang ikhlas.

j. Selalu menjaga jarak antara dirinya dengan muridnya.

k. Memelihara harga diri, wibawa dan kehormatan.

l. Mursyid harus bisa memberi petunjuk tertentu pada situasi tertentu kepada muridnya.

m. Merahasakan hal-hal istimewa.

n. Mursyid selalu mengawasi muridnya dalam kehidupan sehari-hari.

o. Merahasiakan segala gerak gerik kehidupannya.

p. Seorang mursyid harus mencegah berlebihan dalm makan dan minum.

q. Seorang mursyid harus menyediakan tempat berkhalwat bagi murid-muridnya.

r. Menutup pergaulan murid dengan mursyid lainnya.

B. Murid dan kewajiban terhadap Mursyidnya

Murid secara etimologis artinya orang yang berkehendak, berkemauan dan mempunyai cita-cita. Murid dalam istilah tarekat adalah orang yang bermaksud menempuh jalan untuk dapat sampai ke tujuan yakni keridoan Allah.

Kewajiban murid terhadap mursyidnya adalah sebagai berikut :

1. Menyerahkan diri lahir batin.

2. Murid harus menurut dan mematuhi perintah gurunya.

3. Murid tidak boleh menggunjing gurunya.

4. Seorang murid tidak boleh melepaskan ikhtiarnya sendiri.

5. Seorang murid harus selalu ingat kepada gurunya.

6. Seorang murid tidak boleh memiliki keinginan untuk bergaul ;lebih dalam dengan mursyidnya, baik untuk tujuan dunia maupun akhirat.

7. Seorang murid harus mempunyai keyakinan dalam hati.

8. Seorang murid tidak boleh menyembunyikan rahasia hatinya.

9. Murid harus memelihara keluarga dan kerabat gurunya.

10. Kesenangan murid tidak boleh sama dengan gurunya.

11. Seorang murid tidak memberi saran kepada gurunya.

12. Seorang murid tidak boleh memandang kekurangan gurunya.

13. Seorang murid harus rela memberikan sebagian hartanya.

14. Seorang murid tidak boleh bergaul dengan orang yang dibenci gurunya.

15. Seorang murid tidak boleh melakukan sesuatu yang dibenci gurunya.

16. Seorang murid tidak boleh iri kepada murid lainnya.

17. Segala sesuatu yang menyangkut pribadinya harus mendapat izin dari gurunya.

18. Tidak boleh duduk pada tempat yang biasa dipakai duduk oleh gurunya.

C. Adab Murid terhadap Dirinya Sendiri

1. Meninggalkan pergaulan dengan orang-orang yang jahat, sebaliknya bergaul dengan orang-orang pilihan.

2. Jika hendak berzikir padahal ia telah memiliki keluarga dan telah beranak maka seyogyanya menutup pintu yang dapat menghalangi antara dia dengan istri dan anaknya.

3. Meninggalkan sikap berlebihan baik dalam urusan makan, minum, pakaian, hubungan suami istri.

4. Meninggalkan cinta dunia dan berfikir tentang kehidupan akhirat.

5. Tidak tidur dalam keadaan junub, tetapi sebaliknya selalu dalam keadaan suci punya wudu.

6. Tidak boleh toma (berharap) kepada apa yang ada di tangan manusia lain.

7. Jika rizki sulit didapat, dan hati manusia keras kepadanya, amka bersabarlah, sebab boleh jadi hara dunia berpaling dari murid ketika ia masuk dalam tarekat.

8. Hendaklah ia melakukan muhasabah (intropeksi) dan mendorong jiwanya untuk mengamalkan tarekat.

9. Menydikitkan tidur, terutama di waktu sahur sebab ia adalah waktu ijabah.

10. Menjaga diri agar hanay makan yang hala.

Dan lain-lain …

D. Adab Murid terhadap Sesama Ikhwan atau terhadap Muslim yang lain

1. Mencintai ikhwan tarekat seperti ia mencintai dirinya sendiri.

2. Memulai mengucapkan salam, bersalaman dan berbicara dengan bahasa yang menyenangkan jika bertemu sesama ikhwan.

3. Bergaul sesama ikhwan dengan akhlak yang baik.

4. Bersikap tawadu’ kepada ikhwan.

5. Mencari keridaan mereka dan anda harus memandang mereka lebih baik dari pada anda sendiri, selanjutnya saling menolong dalam kebaikan dan takwa, mencintai Allah dan mendorong mereka dalam apa yang diridai Allah dan anda menunjuki mereka ke jalan yang benar.

6. Menaruh kasih kepada semua ikhwan, hormat kepada yang lebih besar dan sayang kepada yang lebih muda.

7. Bersikap simpatik dan halus dalam upaya menasihati ikhwan jika meraka melakukan pelanggaran.

8. Berbaik sangka kepada ikhwan.

9. Hendaklah menerima permintaan maaf ikhwan yang lain apabila ia minta maaf meskipun ia berdusta, sebab orang yang meminta maaf kepadamu secara terbuka meskipun batinnya marah maka sesungguhnya orang itu telah taat kepadamu dan telah menghormatimu.

10. Mendamaikan dua ikhwan yang bermusuhan.

11. Bersikap benar kepada sesama ikhwan dalam segala kondisi dan jangan lupa mendo’akan mereka dengan ampunan meskipu mereka gaib (tidak ada dihadapan kita).

12. Memberi kelapangan mereka dalam majelis.

13. Bertanya tentang nama kawan kita sekaligus nama ayahnya.

14. Mempertahankan harga diri ikhwan dan menolong mereka meskipun sedang tidak dihadapan kita.

15. Menunaikan janji apabila ia berjanji, sebab sesungguhnya janji termasuk salah satu dari dua pemberian, menurut Ahlussunnah ia adalah utang.

E. Waliyullah

Waliyullah artinya kekasih Allah, orang-orang yang dicintai Allah. Ia selalu diberi hidayah oleh Allah untuk beramal salih dan berdakwah, ia adalah orang-orang salih yang beramal dengan ikhlas.

F. Tanda-tanda Wali Allah

1. Jika kita melihat mereka, mereka mengingatkan kita kepada Allah.

2. Jika mereka tiada, tidak pernah orang-orang mencarinya.

3. Mereka bertaqwa kepada Allah.

4. Mereka saling menyayangi dengan sesamanya.

5. Mereka selalu sabar, wara’ dan berakhlak mulia.

6. Mereka hidup zuhud di dunia.

7. Mereka selalu terhindar ketika ada bencana.

8. Hati mereka selalu terkait kepada Allah.

9. Mereka suka terbiasa bermunajat di akhir malam.

10. Mereka suka menangis dan berzikir mengingat Allah.

11. Jika meraka menghendaki sesuatu, Allah memenuhi keinginannya.

12. Keinginan mereka dapat menggoncangkan gunung.

Karamah

Karamah adalah kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada para wali. Hal itu diberikan sebagai hiburan atau santunan, atau pembekalan ilmu atau sebagai ujian.

Manfaat Karamah

1) Dapat menambah keyakinan kepada Allah.

2) Mengkokohkan kepercayaan masyarakat kepada seorang wali.

3) Adanya karomah merupakan bukti anugrah atau derajat yang diberikan Allah kepada seorang wali, agar pengabdiannya tetap istiqamah.

G. Perbedaan antara Kenabian dan Kewalian

Kenabian adalah jabatan spritual yang diberikan Allah kepada orang-orang pilihan dengan cara Allah memberikan wahyu kepadanya, sementara kewalian adalah kasih sayang Allah kepada orang-orang tertentu karena ia berusaha mujahadah taqarub kepada-Nya sehingga memberikan ilham kepada-Nya.

Kenabian adalah kalam yang datang dari Tuhan sebagai wahyu, bersama-sama ruh dari Tuhan, sebagai wahyu yang dinyatakan dan diperkuat dengan ruh. Kewalian adalah orang dimana Tuhan mempercayakan (waliyah) hadis-Nya. Tuhan membawa wali kepada diri-Nya dengan cara yang berbeda, dan dia mempunyai hadis.

Bukti-bukti Kenabian

Sebagai salah satu indikator pengakuan seseorang sebagai nabi dan rasul adalah adanya mu’jizat. Mu’jizat adalah kejadaian luar biasa yang diberikan Allah kepada seorang nabi atau rasul untuk menguatkan kenabian dan kerasulannya.

Syarat-syarat Mu’jizat

1. Mu’jizat, datangnya harus dari Allah sebagai kejadian luar biasa untuk menguatkan kenabia atau kerasulan seseorang.

2. Mu’jizat harus berupa kejadian luar biasa sehingga tidak ada yang dapat meniru.

3. Mu’jizat harus muncul dari seorang nabi agar dapat dijadikan bukti bagi risalahnya.

4. Mu’jizat harus diiringi dengan pengakuan kenabian, baik secara hakekat atau hukum. Biasanya didahului dengan kejadiaan luar biasa yang disebut irhash.

5. Mu’jizat harus sesuai dengan situasi dan kondisi di masa timbulnya, kalau tidak, maka pungsinya berubamenjadi ihanah, seperti yang terjadi pada Musilamah al-Kazzab.

6. Para penentang risalah tidak bisa mendatangkan yang sepertinya, jika bisa, maka mu’jizat itu palsu.

7. Mu’jizat boleh bertentangan dengan hukum alam.

Ma’unnah, Ihanah, Istidraj, Irkhas, Sihir, Sya’udah dan Garaib al-Mukhtari’ah.

Ma’unah adalah kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada orang awam untuk melepaskan dirinya dari kesulitan.

Ihanah adalah kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang pembohong yang mengaku sebagai nabi, seperti yang pernah diberikan kepada Musailamah al-Kazzab.

Sedangkan Istidraj adalah kejadian luar biasa yang diberikan kepada orang fasik yang mengaku sebagai wakil Tuhan dengan mengemukakan berbagai dalil untuk menguatkan kebohongannya. Adapaun Irkhas adalah kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada calon nabi.

Sihir adalah suatu cara yang dapat menampilkan berbagai perbuatan yang aneh bagi yang tidak mengerti seluk beluknya, tetapi sebenarnya seluk beluknya itu dapat dipelajari.

As-Sya’udah adalah kejadiaan ;luar biasa yang biasa timbul di tangan seseorang, sehingga menampakan pesona dan kekaguman bagi yang melihatnya, meskipun kejadian itu tidak terjadi.

Garaib al-Mukhtariah adalah karya atau ucapan manusia disebabkan ilmu pengetahuan dan teknologi tertentu, seperti radio, televisi dan telepon, hp dan lain-lain.

Sumber: http://kpifakultasdakwah.wordpress.com/2010/05/06/tasawuf-dan-tharekat/

PARADOKS: Kesetaraan Gender dan Ideokultur


Oleh Akhmad Erwan Suryanegara

Pemaknaan Konsep Gender

MUNGKIN dalam banyak hal, persoalan mendasar yang cenderung dianggap sepele adalah bagaimana kita memahami dan memaknai sebuah konsep, tentang apapun konsep itu yang jelas pemaknaannya sangatlah berperan penting, dan menentukan untuk nantinya seperti apa seseorang akan bersikap dalam mengadaptasi atau mengapresiasi, sebagai respon atau sikapnya yang sedikit-banyak akan dipengaruhi pula oleh bagaimana pemahamannya atas suatu konsep.

Istilah kesetaraan dan atau perbedaan gender (gender equivalences and or differences), merupakan sebuah persoalan yang dari masa ke masa sepertinya tidak mengenal kata habis. Adanya jenis manusia yang berlabel laki-laki di satu pihak dan yang berlabel perempuan di lain pihak, merupakan pokok pangkal munculnya persoalan gender yang memang sudah memiliki garis proses cukup panjang dalam sejarah perjalanan keberadaan manusia itu sendiri.

Labeling manusia sebagai laki-laki dan atau perempuan itu konsep utamanya hanyalah karena adanya dua jenis kelamin (sex), dilihat berdasarkan perbedaan alat reproduksi secara biologis yang bersifat kodrati atau sesuai ketentuan Tuhan. Konsep lainnya adalah gender, yaitu perbedaan perilaku (behavioral differences) sebagai suatu ciri atau sifat yang melekat pada kaum laki-laki atau perempuan, dimana ciri atau sifat itu sendiri tidak berlaku tetap (permanent) atau bisa berubah, dan dapat dipertukarkan antara yang satu dengan lainnya sesuai tempat atau ruang, waktu, dan dalam strata masyarakat tertentu yang terbentuk berdasarkan kontruksi sosial dan atau kultural.

Semarak atau hiruk-pikuknya gonjang-ganjing tentang persoalan-persoalan perbedaan gender ini ditengarai dikarenakan oleh banyak hal, dan memiliki latar belakang serta tujuannya masing-masing. Menyangkut perbedaan itu seperti dikatakan oleh Dr. Mansour Fakih (Analisis Gender, 1996: 9), di antaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial dan atau kultural, melalui kekuasaan negara dan juga seolah sesuai dengan ajaran agama.

Melalui proses panjang, kontruksi gender tersosialisasikan sebagai perbedaan-perbedaan yang akhirnya dianggap seolah-olah menjadi ketentuan Tuhan yang bersifat biologis, mutlak, dan kodrati. Selanjutnya secara perlahan namun pasti akhirnya kontruksi sosial – kultural gender menghasilkan pembenaran-pembenaran atas kesalahan pemahaman dalam memaknai konsep gender, dengan hanya dan seolah harus merujuk pada perbedaan jenis kelamin yang bersifat mutlak atau kodrati.

Tidak mengherankan ketika membicarakan persoalan gender, pertama dan mungkin yang utama kita akan selalu berhadapan dengan konstruksi sosial. Secara mendasar dan seharusnya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, bahwa memang terdapat perbedaan antara perempuan dengan laki-laki, jika kita melihatnya dari sudut pandang biologis. Demikian pula ketika konsep gender itu dilihat dari wilayah kultural, berbagai persoalan segera bermunculan dengan keanekaragaman dan kekhasannya, bagaikan tidak mungkin lagi untuk dapat mendudukkannya secara proporsional. Perbedaan yang bersifat biologis itu seolah-olah harus berlaku pula pada tingkat sosial dan atau kultural, baik itu dalam hal peran, fungsi, bahkan termasuk eksistensinya.

Ciri-ciri biologis-kodrati yang membedakan laki-laki dengan perempuan atau antara wanita dengan pria, berdampak luas pada kenyataan hidup dan penghidupan, seakan menjadi sebuah rumus “kebenaran” dari suatu rekayasa “pembenaran”. Sebenarnya selama perbedaan gender itu tidak membuahkan suatu ketidakadilan, perbedaan itu bukanlah merupakan sebuah masalah. Namun pada kenyataan umumnya perbedaan gender ini meghasilkan ketidakadilan, baik itu kepada kaum laki-laki maupun dan bahkan terutama pada kaum perempuan.

Ketidakadilan yang dilahirkan akibat perbedaan gender ini bersifat kompleks dan tidak dapat dipisahkan satu persatu, saling terkait satu dengan lainnya dan umumnya lebih banyak tertuju kepada kaum perempuan. Diawali dengan munculnya gerakan feminisme, kaum perempuan secara sistemik dan terbuka mulai meneriakkan tuntutan kesetaraan gender, di berbagai tempat dan kesempatan gaung dari genderang protes yang menuntut keadilan atau kesetaraan gender terus dikumandangkan. Tidak perlu heran jika gerakan-gerakan itu bukan hanya dilakukan oleh mereka para perempuan, tetapi juga banyak direspon yang tidak jarang melibatkan kaum laki-laki, tentu saja sesuai dengan latar belakang pemahaman dan pemaknaan serta tujuannya masing-masing.

Target dan Bias Gender

Kebenaran dan pembenaran dalam memaknai konsep gender bagaikan benang kusut yang kian rapat terjalin menyelimuti persoalan gender, tidak terkecuali di Indonesia. Untuk membicarakan gender di Indonesia, tidak ada salahnya jika sedikit menoleh ke belakang dimana perjuangan kesetaraan gender ini telah mulai digaungkan sejak masa RA. Kartini, ia dikatakan menjadi satu dari sekian orang yang mengawali mempertanyakan sekaligus menyuarakan semangat kesetaraan gender (emansipasi wanita), baik itu terhadap kaum kolonial di kala itu, maupun masyarat bangsanya sendiri terutama di lingkup keluarga terdekatnya yang primordial.

Kini, setelah sekian lama berlalu tidak dapat dipungkiri, kesetaraan gender di Indonesia sudah boleh dan dapat dikatakan relatif meningkat, terutama jika dibandingkan dengan era Kartini kala itu tentunya. Kondisi kesetaraan gender di Indonesia saat ini sebetulnya tidak terlepas dari pengaruh kondisi di luar (Barat) sekitar tahun 60-an yang lalu, dimana gelombang feminisme yang mengawali untuk membangkitkan “consciousness raising”, dan apa yang terjadi di Indonesia saat ini sebetulnya adalah mengikuti gelombang feminisme internasional itu pula, tetapi di Indonesia sekaligus berhadapan pula dengan beberapa perbedaan, seperti adanya perbedaan ideologi negara dan kendala budaya.

Sebuah fenomena yang sangat menakjubkan telah berlangsung dalam dua dasawarsa-an terakhir, bagaimana sebuah gagasan telah berhasil mempengaruhi dan mendominasi pikiran secara global, khususnya pada negara-negara berkembang. Di Indonesia kata “pembangunan” terutama sejak masa Orde Baru telah menghipnotis dan merasuk dalam pemikiran manusia Indonesia, bagaikan “agama baru” seolah dewa atau dewi keberuntungan yang begitu didambakan, karena sangat diyakini akan membawa dan sekaligus memberikan pencerahan hidup, baik kini maupun di masa-masa mendatang.

Sebagaimana teori ideologi, gagasan pembangunan telah berhasil menghegemoni, mendominasi, dan menyentuh berbagai dimensi hidup dan kehidupan, serta merupakan sebuah konsep yang dianggap memiliki relevansi baik dilihat secara spritual, sosial, kultural, termasuk dari sudut politik kekuasaan negara. Dilihat dari konsep dasar ‘pembangunan’, sesungguhnya tidak ada konsep dalam ilmu-ilmu sosial yang selentur, serumit, dan sesamar dari istilah pembangunan. Ada sekian banyak kata yang memiliki makna sama dengan kata pembangunan, seperti misalnya pertumbuhan, perubahan sosial, kemajuan, dan modernisasi. Nyatanya tidak satupun dari kata-kata tersebut yang hanya berarti perubahan ke arah positif, karenanya kata pembangunan sangat tergantung pada konteks siapa yang menggunakan dan untuk kepentingan apa.

Demikian halnya dalam persoalan gender di Indonesia, perubahan-perubahan yang dihasilkan dari gerak pembangunan itu ternyata ada dan bahkan banyak yang juga merugikan atau bersifat negatif bagi penegakan kesetaraan gender, selain dari segi positif atau yang menguntungkan bagi gerakan kesetaraan gender itu tentunya. Dari sini terlihat jelas bahwa kesalahan dalam pemaknaan konsep gender hanya merupakan awal sebagai ideologisasi suatu kontruksi sosial – kultural gender, pada tingkat lanjutannya melalui politik kekuasaan negara yang dengan daya pukau pembangunannya, memperkuat kontruksi sosial – kultural gender dan sekaligus tersosialisasikan, kemudian dianggap atau diyakini sebagai kebenaran ideologis.

Politik dalam hal ini kekuasan negara yang sebetulnya memegang kata kunci, karena memiliki potensi besar sebagai pemegang kebijakan akan legitimasi-legitimasi hukum formal. Melalui GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara), dikatakan secara jelas bahwa perempuan harus terlibat langsung dalam proses pembangunan bangsa. Merupakan sebuah pengakuan politik kekuasan negara yang bersifat legal-formal akan adanya kesetaraan gender. Lebih jauh dikatakan pula bahwa perempuan harus mampu berperan ganda, istri mitra sejajar pendamping suami. Juga telah ditetapkan adanya Hari Ibu sebagai salah satu hari besar nasional, dan terakhir secara khusus telah diundangkan pula UU Anti Kekerasan Perempuan. Seiring kehadiran produk-produk hukum formal yang pro atau membela kesetaraan gender itu, tindak kekerasan, pelecehan, dan ketidakadilan atas perbedaan gender masih terus berlangsung dalam berbagai dimensinya, baik di tingkat individu, keluarga, sosial, kultur, politik, hukum, pendidikan, ekonomi, dan lain sebagainya.

Pada kenyataannya produk-produk hukum formal bukanlah jaminan yang aman untuk memuluskan perjuangan kesetaraan gender. Bila dikaji ternyata di dalamnya juga masih menyiratkan adanya peluang status quo (fungsionalisme struktural) patriaki atau ketidaksetaraan antara kaum laki-laki dengan perempuan. Peran ganda perempuan jelas menyiratkan ketidakadilan, karena artinya perempuan harus memikul beban yang lebih banyak dan lebih lama (burden) dari laki-laki sebagai bias gender. Istri itu mitra pendamping, dapat berarti bahwa perempuan adalah orang kedua atau harus bermitra karena tidak otonom dan tidak dipercaya untuk memimpin (subordinate). Hari Ibu bernasib sama dengan Hari Kartini, pada relitasnya hanyalah serimonial semu yang cenderung ilusif (false consciousness).

Dampak pembangunan di bidang komunikasi dan informasi yang membuat segala sesuatu menjadi global, satu sisi merupakan angin segar yang semakin membukakan cakrawala tentang perjuangan konsep gender bagi negara-negara berkembang, sisi yang lain terutama melalui teknologi visual modern (film, televisi, video, realitas virtual) dapat melahirkan makna lain tentang perempuan (produksi makna). Ledakan-ledakan keberhasilan kaum feminin dalam meruntuhkan tonggak keangkuhan kekuasaan maskulin era 90-an di beberapa bagian dunia khususnya di Barat, merupakan pemicu yang sangat berarti bagi gerakan perempuan termasuk di Indonesia. Lewat media komunikasi dan informasi yang mengglobal, di kawasan mana pun tidak terelakkan dapat diketahui telah banyak bukti bahwa perempuan itu setara dengan laki-laki, tetapi sebaliknya dalam waktu yang bersamaan pula dapat disimak praktik-praktik ketidakadilan akibat perbedaan gender. Lebih miris lagi tidak sedikit beritanya bahwa di antara para aktor pelaku praktik-praktik pelecehan itu juga adalah kaum perempuan pula.

Jelaslah bahwa adanya gelegar capaian prestasi kaum perempuan dalam dua puluhan tahun belakangan ini, bukan berarti gerakan kesetaraan gender telah mendekati batas akhir perjuangannya, melainkan berdasarkan fakta-fakta yang ada ini berarti sebuah awal baru dari babak berikutnya atas gerakan kesetaraan gender. Banyak pengamat, kritikus, bahkan tokoh-tokoh praktisi gerakan gender itu sendiri berpendapat, dengan posisi-posisi puncak di bidang sosial, hukum, ekonomi, pendidikan, teknologi, termasuk politik kekuasaan yang telah banyak diisi oleh figur perempuan, bukanlah tujuan utama atau akhir dari gerakan kesetaraan gender. Berdasarkan analisis gender, arah atau target gerakan gender adalah transformasi sosial jangka panjang, secara luas, utuh, dan menyeluruh, atau dalam arti tidak melulu sekadar memperjuangkan soal pemenuhan kebutuhan praktis kondisi kaum perempuan belaka.

Hegemoni Patriaki dan Maskulinitas

Benturan-benturan antara konsep gender dengan nilai-nilai ideokultural yang bukan hanya ada dan terjadi di Indonesia, merupakan paradoksal seolah menuntut semangat perjuangan gerakan feminis atas kesetaraan gender tidak akan pernah mengenal kata batas “final”. Betapapun gerakan feminisme di Indonesia masih tergolong baru – setelah sekian lama gerakan ini berkembang, karenanya gerak perjuangan penegakan kesetaraan gender di Indonesia belum banyak menunjukkan signifikansi yang cukup berarti sebagai hasil dari perjuangan gerakan tersebut.

Perempuan Indonesia memang sudah banyak yang berhasil mencatatkan diri baik dalam peran, fungsi, maupun eksistensinya setara dengan kaum laki-lakinya, seperti di bidang ekonomi, hukum, sosial, agama, pendidikan, teknologi, dan bahkan figur perempuan Indonesia pun sudah pernah berhasil menduduki singgasana puncak politik kekuasaan negara. Namun tidak bisa disangkal bahwa peran, fungsi, termasuk keberadaan atau eksistensi yang diraihnya itu belumlah seperti apa yang dicita-citakan sesuai dengan perjuangan konsep gender.

Dalam banyak bidang secara fisik perempuan Indonesia memang sudah banyak yang memegang peran terpenting atau tertinggi. Secara fungsi, perempuan Indonesia pun sudah banyak menjadi orang yang paling menentukan dalam mengambil keputusan atau kebijakan, dan eksistensinya sangat dihormati, diakui, serta tidak diragukan lagi. Namun ketika si perempuan itu kembali ke rumah, semuanya tadi menjadi hilang bahkan dapat berlaku terbalik. Boleh jadi secara formal banyak perempuan sudah menyetarakan diri dengan laki-laki, tetapi pada tataran informal terutama di lingkungan keluarga dan atau sosial kemasyarakatan tertentu, dimana hegemoni patriaki tetap berlaku dengan nilai-nilai sosial – kultural yang dihayati bahkan diyakini sebagai pengabdian ideologis, maka suka tidak suka atau dengan kesadaran dan atau tanpa kesadaran nilai-nilai tadi tetap harus dihormati atau dijunjung tinggi.

Di satu sisi perempuan telah memegang peran tertinggi sebagai penentu kebijakan, di sisi lainnya tidak jarang perempuan pula yang menjadi korban dari kebijakan itu. Tali kekang politik kekuasaan negara telah pula dipegang oleh figur perempuan, namun tidak sedikit perempuan-perempuan lainnya bahkan termasuk pula laki-laki, yang meratap dengan bersimbah air mata dan atau berlari terbirit-birit kebingungan, karena lecutan yang sekaligus pecutan dari tali kekang sebagai wujud hegemoni maskulinitas. Banyak perempuan yang eksistensinya sangat dikagumi dan dihargai, tetapi tidak sedikit pula perempuan-perempuan yang menginjak-injak sendiri dan atau juga terinjak-injak eksistensi keperempuanannya, baik oleh laki-laki maupun perempuan itu sendiri. Pada prinsipnya, maskulinitas tidak mesti hanya dimiliki oleh kaum laki-laki, begitu pun feminitas tidak serta merta harus pula hanya dimiliki oleh kaum perempuan.

Berdasarkan kontruksi sosiokultural yang ada di Indonesia, terdapat beberapa istilah lainnya yang bermakna sama, meminjam atau menggunakan konsep, dan atau dikonotasikan sebagai perempuan, seperti puteri, perawan, gadis atau nona, wanita, …wati, pramugari, uni atau ayu’ atau teteh atau mba’ atau yunda (kakak perempuan), istri, bini, ibu, ibu rumah tangga, nyonya, janda, bibi, nenek, dewi, bidadari, permaisuri, ratu, selir, gundik, muncikari, pelacur, nenek sihir, nenek atau mak lampir, kuntilanak atau sundel bolong, ibu kota, dan ibu pertiwi. Dari istilah-istilah (bahasa Indonesia) tersebut di atas untuk kata selir, gundik, muncikari, pelacur, nenek sihir, nenek atau mak lampir, kuntilanak atau sundel bolong, ibu kota, dan ibu pertiwi, ternyata secara khusus tidak ada padanan katanya pada kelompok laki-laki.

Pada kata ‘selir, gundik, mucikari, pelacur, nenek sihir, mak lampir, kuntilanak atau sundel bolong’ dapat diketahui pemaknaannya mengandung konotasi negatif tentang perempuan sebagai hegemoni patriaki. Sementara istilah selir dan gundik adalah perwujudan subordinasi wanita, berarti istri muda atau istri kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, atau juga dapat berarti istri yang tidak sah (wanita piaraan = bini gelap), bahkan kata selir dan gundik direproduksi maknanya menjadi perempuan yang berfungsi utama melayani atau pemuas kebutuhan seks sebagai dominasi kaum laki-laki (penguasaan fisik perempuan oleh laki-laki), khususnya bagi mereka yang statusnya sudah beristri seperti raja, pangeran, suami, kakek, bapak, ayah, dan atau paman.

Kata mucikari dan pelacur menunjukkan adanya eksploitasi sebagai dominasi pria atas wanita, dimaknai sebagai wanita tuna susila. Awalnya istilah muncikari berasal dari kata ‘munci’ yang bermakna sama dengan gundik, kata ‘kari’ maknanya sisa, bersisa, ketinggalan, dan tercecer sebagai wujud subordinasi perempuan. Istilah pelacur berasal dari kata ‘lacur’ yang sebetulnya tidak berkait langsung dengan jenis kelamin tertentu, artinya celaka, gagal, tidak jadi, sial, atau kelakuan tidak baik, yang selalu ditujukan kepada perempuan walau sudah ada kata serapan ‘gigolo’. Pada kata nenek sihir, nenek atau mak lampir, kuntilanak atau sundel bolong, adalah mitosasi ketidakadilan gender, bahwa yang jahat itu perempuan, sedangkan kata ibu kota dan ibu pertiwi adalah peminjaman atau penggunaan identitas ibu (mothering identity) yang bersifat menyusui atau mengayomi dan melahirkan atau tempat lahir.

Kesetaraan Gender dan Sisi Lingkar Paradoksnya

Berkobarnya “Perang Gender” tersulut seiring kehadiran feminisme, setidaknya demikianlah salah-satu pandangan yang ada mengitari seputar lika-liku gerakan perjuangan kesetaraan gender, karena secara umum agenda feminisme adalah dalam rangka mengakhiri berlangsungnya ketidakadilan perbedaan gender. Gerakan kesetaraan gender sesungguhnya adalah suatu gerakan sosial kemanusiaan, yang tidak hanya berkutik pada persoalan-persoalan seputar perempuan belaka, karenanyalah tidak perlu menjadi heran jika dalam perjalanannya, ia akan dan selalu berhadapan dengan berbagai lika-liku pro-kontra berbagai kepentingan, dan disitulah letak paradoksnya.

Marginalisasi, yang mengakibatkan kemiskinan sesungguhnya banyak terjadi di dalam masyarakat dan negara, yang bukan hanya menimpa perempuan tetapi juga laki-laki. Program swasembada pangan atau revolusi hijau (green revolution), dalam banyak studi ditengarai sebagai bentuk pemiskinan kaum perempuan. Revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang tumbuh lebih rendah, dan pendekatan panen dengan sistem tebang habis menggunakan sabit, dianggap tidak memungkinkan lagi panenan dengan ani-ani, padahal ani-ani melekat dan lebih digunakan oleh perempuan. Akibatnya banyak kaum perempuan termarginalisasi, yakni semakin miskin dan tersingkir karena tidak mendapatkan lagi pekerjaan di sawah saat musim panen tiba.

Paradoks yang terjadi dalam wilayah ideokultur, seperti peran ganda perempuan sebagai ibu rumah tangga, dan sekaligus juga banyak kaum ibu yang ikut mencarikan nafkah bagi keluarganya, karenanya ketidakadilan gender dituduhkan telah berlangsung pula di rumah secara sosial-kultural, dimana beban dan waktu kerja atas perempuan dianggap burden atau kaum perempuan menanggung jumlah beban kerja lebih berat, serta waktu kerjanya lebih panjang atau lebih lama dari laki-laki.

Subordinasi, konsep gender juga menolak pandangan yang meremehkan, mempertidak, melecehkan peran, fungsi, dan eksistensi perempuan, sehingga perempuan selalu ditempatkan pada posisi yang tidak penting. Keinginan memegang peran lebih besar, berfungsi sebagai penentu, dan diakui keberadaannya, adalah nilai-nilai manusiawi yang siapapun dia, baik laki-laki maupun perempuan pasti menginginkannya. Pandangan perempuan itu irrasional atau emosional, sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena akan kembali ke dapur juga, dan lain sebagainya anggapan subordinasi yang berdampak adanya perlakuan tidak adil terhadap kaum perempuan.

Akhir-akhir ini setelah terjadinya gempa gender bahkan di Barat sendiri sebagai pusat gempanya, kontruk sosial – kultur diluluh-lantakkan, kebijakan politik negara diluruskan (katanya?), menara maskulin diroboh dan diporak-porandakan, agama pun tidak luput ikut dipersalahkan bahkan dituduh sebagai biang keladinya. Hasilnya, justru banyak memperlihatkan paradoksal yang hakikatnya malah menyimpang dari konsep gender. Sosial kemanusiaan yang dicita-citakan cenderung mengarah pada kebebasan tumpang-tindih tanpa batas, feminitas sekaligus pula maskulinitas, perilaku hidup manusia banyak sudah yang tidak jauh berbeda dengan perilaku binatang yang berakal, bahkan pada berapa sisi malah lebih rendah dari binatang yang tidak berakal.

Stereotipe adalah pelabelan atau penandaan yang diberikan pada perempuan, seperti pesolek, pelayan suami, lemah-gemulai, semampai, tekun, penurut, dan lain sebagainya sebutan yang dilekatkan pada perempuan. Celakanya justru stereotipe ini berdampak pada perlakuan tidak adil yang ditimpakan kepada kaum perempuan, karena itu konsep gender menolaknya. Stereotipe pada kaum perempuan juga dibentuk atau dihasilkan oleh kontruk sosio-kultur, dengan melalui prosesnya yang panjang atau disosialisasikan serta diterapkan dalam berbagai dimensi hidup dan kehidupan sehingga disepakati bersama, maka pandangan stereotipe itu menjelma sebagai ideokultur, seolah sesuatu yang sudah seharusnya dan atau begitulah adanya.

Penglabelan dengan stereotipe pada kaum perempuan sebagai kontruk sosio-kultur yang telah menjelma menjadi pandangan yang bersifat ideokultur, sesungguhnya tidak bisa terlalu dipersalahkan, karena istilah bersolek, pelayan suami, lemah-gemulai, semampai, tekun, penurut, dan sebagainya itu pada dasarnya adalah nilai-nilai yang justru merupakan pengakuan masyarakat akan kelebihan, eksistensi, keunikan, dan keistimewaan pada kaum perempuan. Paradoksnya, kejahatan, kekerasan, pelecehan seks termasuk dalam hal ini pemerkosaan yang dikatakan salah-satunya berpangkal pada persoalan karena adanya stereotipe (bersolek, pelayan suami, lemah-gemulai, dan lain-lain) pada perempuan, bagaimana dengan kasusnya yang mungkin berbeda tetapi motifnya sama, yang terjadi atau menimpa para laki-laki, dan pelakunya adalah perempuan-perempuan?

Sebagaimana diketahui hal-hal seperti tersebut di atas untuk saat ini, sudah bukan menjadi rahasia lagi, khususnya bagi masyarakat yang berada di lingkar perkotaan, seperti kota wisata pantai, hiburan, atau metropolitan, dan apalagi kalau mau bicara pola kehidupan masyarakat yang dikatakan kosmopolitan. Para penjaja seks yang semula perempuan (pelacur), kini sudah ada juga penjaja seks yang laki-laki (gigolo), karena konsumernya juga sudah banyak perempuan, sebagaimana yang sudah sering ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi dalam acara bertema tertentu. Banyak terdengar bahwa kini tidak sedikit perempuan dan laki-laki yang tidak ingin menjadi ibu dan bapak, walaupun mereka sudah terikat tali lembaga perkawinan, dan lebih parahnya lagi sudah banyak pula laki-laki dan perempuan yang melakukan hubungan tanpa nikah. Yang terkini, bahkan ada anggota dewan lebih memilih bercerai dari suaminya yang meminta supaya berhenti dari keanggotaannya di parlemen, karena untuk memelihara keharmonisan keluarga mereka yang mulai terabaikan. Si anggota dewan memilih lebih baik bercerai dengan alasan sebagai pertanggunganjawabnya pada konstituen pemilihnya (perkara ini masih ditangani pengadilan agama). Pertanyaannya kemudian, apakah transformasi sosial seperti demikian yang diinginkan, dan itukah yang dimaknai dengan kesetaraan gender?

Konsep Gender dan Tafsir Agama

Cukuplah pengalaman pada zaman kegelapan (darkness age) di Eropa, ketika agama dikuasai dan diperalat oleh manusia demi kepentingan kelompoknya, sehingga agama menjadi kehilangan kewibawaannya. Kini tampaknya agama kembali dipertanyakan oleh banyak orang, termasuk dalam persoalan gender ini agama sering dipermasalahkan, dipersalahkan, dijadikan kambing hitam sebagai biang keladi legalisasi ketidakadilan gender. Apalagi secara nyata-nyata eksistensi Tuhan telah diidentifikasikan dengan bias laki-laki sebagai pelanggengan semangat patriaki.

Agama dalam hal ini Islam, adalah satu agama yang telah ditetapkan Tuhan Allah SWT melalui Al-Quran yang diwahyukan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW, secara tegas dikatakan sebagai agama pembawa kebenaran bagi seluruh umat manusia di muka bumi sampai akhir zaman. Karenanya tidak dapat diragukan lagi bahwa Islam adalah agama yang benar, artinya Al-Quran dan Sunnah Rasul adalah sumber valid yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena telah mendapat jaminan dari-Nya. Untuk mencari dan dapat mengetahui seperti apa hakikat keadilan gender yang benar, maka Al-Quran dan Sunnah Rasul adalah satu-satunya sumber yang dapat dijadikan pijakan aman, karena merupakan cerminan dari 99 (sembilan puluh sembilan) sifat wajib Allah SWT, yang beberapa di antaranya Mahaesa, Mahakuasa, Mahamulia, Maha Penyayang, Mahatahu, Mahabenar, Mahaadil, Mahabijaksana, dan seterusnya.

Persoalannya adalah tafsir terhadap nilai-nilai yang dikandungnya, dan melalui pintu tafsir inilah yang memungkinkan Islam didiskreditkan sebagai salah-satu agama yang mendorong ketidakadilan gender. Dalam hal tafsir-menafsir ini, pada dasarnya Al Qur’an berisikan dalil-dalil quth’iyul dan dalil-dalil dhanniyul. Dalil qut’iy hanya memiliki satu tafsir yang bersifat mutlak, sedangkan dalil dhanny adalah dalil yang dapat ditafsirkan, dan dalil-dalil yang bersifat dhanniyul inilah yang dalam penafsirannya memerlukan pisau analisis yang netral dan proporsional, sesuai dengan semangat atau prinsip dari sifat-sifat wajib Allah SWT.

Secara tegas dan lugas ayat-ayat Al-Quran memperlihatkan hakikat keadilan dan kesetaraan gender. Tuhan, Allah SWT menciptakan laki-laki Adam sebagai manusia pertama disusul perempuan Hawa sebagai pasangannya, disampaikan pula bahwa Adam dan Hawa sebagai makhluk yang memiliki kelebihan berupa akal tetapi sekaligus kelemahannya. Selanjutnya, Tuhan juga memperlihatkan kelebihan kaum Hawa melalui Mariyam, dimana tanpa dengan kaum Adam, dia (Mariyam) dapat melahirkan Isa sebagai anaknya. Dari dua kejadian tersebut saja jika dikaji, cukup jelas bahwa Islam berlaku adil pada laki-laki dan perempuan, keduanya sama-sama makhluk istimewa disisi-Nya, kemudian pada keistimewaannya itu perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajibannya masing-masing yang proporsional, dimana satu sama lainnya tidak bisa disamakan dan sekaligus tidak bisa pula dibedakan, inilah hakikat sesungguhnya dari keadilan dan kesetaraan gender.

Jika konsep keadilan dan kesetaraan gender tetap dirumuskan dengan hanya mengacu pada teori-teori keilmuan ontologis yang tendensius, maka dari masa ke masa persoalan gender akan terus timbul kemudian tenggelam, hanyut dan terdampar porak-poranda, setelah terhempas bersama paradoks-paradoks yang menyelimutinya, tetapi sekaligus juga menelanjanginya. Lantas kemudian dimanakah letak manfaatnya, atau sekarang manusia memang sudah lebih cenderung mencari dan ingin mendapatkan mudhoratnya…? Tragis!

Perbincangan di dalam Diam


betapa megah pengharapan
tetapi berjalan bersamamu
kesadaraanku lebih berjaga
sedih dan duka saling meniadakan
gembira dan suka saling menghampakan

di nadi sungaimu aku berdenyut
“Itu hanya gurauan,” katamu.
seketika itu senyumku makin menyayat

senyum resahku mengingat secuplik qiyas
tentang kitab suci terhanyut di sungai
si penemu berteriak-teriak kegirangan
ia hamburkan temuannya pada banyak orang
“Ini kitab tentang Tuhan,” ujar dia

kini sungai itu telah menjadi laut
di situ keturunan mereka berendam
berebut menangkari buih-buih kebenaran
“Inilah kami, para pemuja Tuhan,” kata mereka
seraya berlomba-lomba menulis sejarah

betapa letih penantian
tetapi berdiam di rumahmu
perniagaanku lebih berharga
ketakacuhan dan ketakpedulian saling mencela
penghambaan dan kepemilikan saling mendera

di kedalaman sungaimu aku melebur
“itu peringatan sekaligus pembeda,” katamu
seketika itu isakku makin merapuh

Palembang, Dzulhijjah 1430


Wasiat Seorang Sufi


Sajak Syamsul Noor Al-Sajidi

kalau hanya kata
mana bisa cinta mengalirkan rindu
kalau hanya raga
mana bisa nyawa mengenali jiwa
kalau hanya suka
mana bisa nikmat mensyukuri karunia
kalau hanya doa
mana bisa tapak menuai langkah
kalau hanya akal
mana bisa hidup mengecap rahasia
kalau hanya aku
mana bisa ikhlas mengiringi ibadah
kalau hanya
mana bisa

Palembang, Sya’ban 1412

Catatan:
sajak ini pernah dimuat di H.U. Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta.

Berita dari Surga bagi Orangtua


- dedikasiku bagi Kanda Erwan Suryanegara -

segenap keletihan tanpa keluhan
saat dialami oleh setiap ibu hamil
hinnga segenap sakit bercampur perih
manakala melahirkan anaknya
baginya atas izin Allah memperoleh pahala
setara dengan satu kali haji mabrur.

kepatuhan tak bertepi seorang isteri
dalam melayani dan menghormati suami
juga dalam menjaga harta dan martabat suami
sedangkan dia senantiasa istiqamah
di dalam kepatuhan penuh kepada Allah.
Delapan pintu surga terbuka baginya

“Dia, itulah ibuku. lihatlah, dia ibuku,”
seru para anak dalam setiap doa
seraya mereka senantiasa mendirikan shalat,
menunaikan zakat, puasa, dan haji
Insya Allah merekalah para anak shaleh
Doa mereka berita dari surga bagi orangtua

Palembang, Muharam 1431
(Kami sekeluarga turut berduka cita
atas telah berpulang ibu tercinta
Kanda Erwan Suryanegara).

Merawat Hati


- bagi tsms -

tengah malam ini
angan serupa apa berbunyi
rindu penuh tak bertepi
serumpun kenangan tergali
sunyi memagut sepi
gaib hati bernyanyi:
do re mi sol la si

menjelang pagi tiba
suara serupa apa bersuara
cinta tumpah tak terkata
serangkum kisah terbaca
sungai menjadi samudera
batas akal berfatwa:
tanpa nol tak bisa sejuta

siapa menanam cinta tanpa prasangka
di dalamnya hadir cemburu bermata
kepadanya gelisah rindu bermakna

siapa bermahkota di singgasana hati
mengenali dan meneliti diri
paham dan tahu alamat kembali

Palembang, Rabiul Awal 1431

Semata-mata karena Uang


Sebagian besar masyarakat di Negeri Salah Urus menganut Islam, tetapi mereka rajin memberi sesajen di pohon paling tua, paling tinggi, dan paling besar di negeri mereka. Suatu hari ada seorang ahli ibadah (Abid) mendengar perkara kesesatan sebagian besar masyarakat di Negeri Salah Urus itu. Sang Abid murka dan bergegas menuju Negeri Salah Urus. Tujuan dia satu, merobohkan pohon tua itu atas izin dan kehendak Allah serta semata-mata karena Allah.

Tak dinyana di tengah perjalanan Sang Abid dihadang oleh sekelompok orang berwajah kelimis dan tampan. Orang-orang itu bertekad mengurungkan niat Sang Abid.

“Pohon tua itu milik kami. Bukan milik Anda. urusi saja urusan Anda dan jangan urusi kami,” sergah seseorang mewakili kelompoknya.

“Mahasuci Allah. Kalian sudah tersesat. Kembalilah pada ajaran yang lurus, rahmatan lil alamin. Pohon tua itu harus saya tumbangkan agar tidak lagi menjadi alat sembahan kalian,” ujar Sang Abid dengan aksentuasi mantap penuh keyakinan.

“Tidak! Kami semua siap mencegahmu sampai tetes darah penghabisan,” tegas seseorang mewakili kelompoknya yang disambut oleh teriakan dari yang lainnya, “Yes, kami siap mati demi tetap tegak pohon itu.”

Pertarungan sengit antara Sang Abid dan sekelompok orang itu tidak lagi dapat dicegah. Sang Abid memainkan jurus-jurus andalannya dan berulangkali berucap, “Allahu Akbar….”

Kurang dari 15 menit berlalu, pertarungan dimenangkan oleh Sang Abid. Skor sementara 1:0. Sekelompok orang itu bertekuk lutut mengaku kalah.

“Kami mengaku kalah tapi kami ingin mengajak Anda berunding, agar kita sama-sama memperoleh keuntungan dari perniagaan ini,” kata wakil sekelompok orang itu berusaha mencari raung dialogis untuk negosiasi.

“Apa maksud kalian?”

“Kami sepakat memberikan bonus uang Rp 1 juta per hari kepada Anda. Dengan uang itu Anda bisa setiap hari bersedekah kepada para fakir miskin. Anda akan menjadi seorang ahli ibadah yang kaya raya dan setiap orang pasti mendengar setiap fatwa Anda. Kami pikir itu jauh lebih baik daripada Anda cuma merobohkan pohon itu. Katakanlah, pohon itu Anda robohkan tetapi apa manfaatnya buat orang banyak? Anda sendiri tidak mendapat uang sepeser pun. Mohon pertimbangkan usulan kami ini.”

Mendengar itu Sang Abid merenung. Dia menimbang-nimbang dan akhirnya membenarkan ucapan wakil dari sekelompok orang itu.

“Baik, saya setuju. Mulai besok pagi kalian sudah memberikan bonus uang itu,” ucap Sang Abid seraya menegaskan, “Jika tidak, jangan salahkan saya. Pohon itu pasti saya robohkan.”

“Percayalah, kami pasti memenuhi kesepakatan bersama ini.”

Hari-hari berikutnya Sang Abid itu pun menerima kucuran bonus uang sesuai kesepakatan. Sang Abid mendermakan lebih dari separuh uang itu kepada anak-anak yatim piatu dan fakir miskin. Memasuki minggu kedua, yaitu di hari ke delapan ternyata kiriman bonus uang itu tidak diterima Sang Abid. Alasan sekelompok orang pemberi bonus, akan mereka berikan berikut bonus hari ke sembilan. Pada hari ke sembilan tetap tidak ada kiriman bonus. Begitu pula pada hari-hari berikutnya. Sang Abid sangat murka dan menuding sekelompok orang itu telah mengingkari perjanjian.

Sang Abid bergegas menuju pohon tua dan dia bertekad bulat merobohkannya tanpa ada lagi negosiasi dalam bentuk apa pun. Kembali sekelompok orang itu menghadang langkah sang Abid.

Pertarungan seru dan sengit antara Sang Abid dan sekelompok orang itu untuk kali kedua pecah. Seisi negeri berguncang. Angin berhembus kencang. Cermin retak. Bayangan makin semu. Masyarakat Negeri Salah Urus berhamburan ke luar. Mereka sontak mendongak memandang lagit. Kabut pekat mengaca udara. Pohon-pohon kecil tumbang. Hewan-hewan peliharaan ke luar dari sangkarnya dan kandangnya dan berlari kian kemari lalu masuk ke hutan-hutan Salah Urus. Rumah-rumah penduduk ambruk rata ke tanah.

Sang Abid dan sekelompok orang itu terus bertarung tak peduli pada keadaan di sekitar mereka. Akhirnya Sang Abid kalah. Tubuh Sang Abid terluka dalam. Darah segar menyembur dari mulut Sang Abid.

“Kepada siapa kalian menuntut ilmu sehingga sekarang kalian telah berjaya mengalahkan saya?” ujar Sang Abid dengan nafas mengap-mengap menahan nyeri tak berhingga di dadanya.

“Kami tidak menuntut ilmu kepada siapa pun. Dulu engkau berjaya karena kau melangkah semata-mata karena Tuhanmu. Sekarang engkau kalah dari kami karena engkau berkehendak semata-mata karena uang.”

Sang Abid menekap dadanya. Nyeri di dadanya makin hebat. Mulutnya menganga. Nafasnya makin megap dan selanjutnya dia menghembnuskan nafas terakhir. Udara makin amis. Tubuh Sang Abid tergeletak kaku tidak jauh dari bentangan sungai Salah Urus. Warna kelam langit memantul kontras di permukaan sungai yang terus mengalir perlahan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.